Mitos atau Fakta, Sayuran Menjadi Beracun Jika Dipanaskan Berulang

79
0
Mitos atau Fakta, Sayuran Menjadi Beracun Jika Dipanaskan Berulang

Menghangatkan makanan menjadi suatu hal yang sudah biasa bagi masyarakat Indonesia khususnya sayuran. Menyantap makanan hangat sendiri dianggap bisa memberikan kenikmatan lebih.

Akan tetapi sejumlah orang percaya jika sayuran akab beracun jika dipanaska secara berulang. Akan tetapi, Dokter spesialis gizi dan nutrisi Inge Permadhi mengatakan, sayuran yang dipanaskan berulang tidak dapat menimbulkan racun. Namun, disarankan untuk mengonsumsi sayuran segar.

“Beracun sih mungkin enggak, tapi tidak sebaik kalau dia disajikan segar. Begitu matang langsung dimakan tidak melalui proses pemanasan ulang,” kata Inge melansir dari CNNIndonesia.com, Senin (9/1).

Mitos atau Fakta, Sayuran Menjadi Beracun Jika Dipanaskan Berulang

Kepercayaan sayuran beracun sempat timbul pada sayur bayam yang dipanaskan. Bayam adalah sayuran yang kaya akan nitrat, dan katanya pemanasan yang terlalu sering akan mengubah senyawa nitrat menjadi zat penyebab kanker. Namun, nitrat merupakan senyawa yang stabil, sehingga tidak mungkin berubah akibat pemanasan.

Tidak bisa dipungkirin, dengan alasan praktis, sebagian orang lebih memilih masak banyak di satu waktu yang kemudian dihangatkan kembali dengan microwave saat ingin dihidangkan. Sekilas tak ada masalah karena masakan masih enak, namun rupanya nutrisi yang ada dalam sayuran seperti vitamin dan mineral bisa hilang bila terlalu lama dipanaskan.

“Nutrisinya bisa hilang. Sayuran itu paling baik setelah dimasak, dimakan sekali habis, termasuk sayur bayam. Sayuran kalau dipanaskan berkali-kali juga sudah hitam.” Tambah Inge.

Mitos atau Fakta, Sayuran Menjadi Beracun Jika Dipanaskan Berulang

Baca Juga: Tidak Jadi Dilarang, Delman Tetap Diizinkan di Monas

Oleh karena itu disarankan untuk mengonsumsi sayuran yang telah dimasak langsung tanpa dipanaskan kembali. Atau bisa juga dengan memanaskan sayur selama satu menit untuk meminimalkan nutrisi dan rasa.

 

Penulis: Fadia Syah Putranto