Dunia mungkin memang tidak hitam putih, namun bukan berarti tidak ada nilai moral universal. Sayangnya, di tengah mengejar keuntungan atau nama besar, seringkali berbagai cara pun dihalalkan.

Fenomena penggunaan tindakan tidak etis untuk kepentingan pribadi tidak hanya ramai ditemui di ranah politik, namun juga lingkungan bisnis. Ragamnya bermacam-macam, dari penghilangan dokumen hingga aksi penyuapan.

Tentu saja setiap individu memiliki prioritas berbeda. Tapi bagi Anda yang memiliki kompas moral kuat, ketika turun perintah tak etis dari atasan, tentu timbul dilema tersendiri.

Jika dipatuhi, nurani terganggu. Jika tidak, bisa jadi kemajuan karier yang terganggu. Bagaimana menghadapinya?

1. Tanyakan alasan dan pertanyaan

Coba terus tanyakan pertanyaan yang intinya mengkonfirmasi permintaan atasan. Pertama, mungkin saja ini hanya sekadar miskomunikasi. Kedua, semoga setidaknya pertanyaan klarifikasi ini membuat atasan Anda berpikir dua kali.

Jika benar perintah tersebut tidak sesuai dengan pegangan nilai hidup Anda, tanyakan alasan mengapa bos memilih tindakan tersebut. Tidak hanya untuk mendapat perspektif bos, tapi sambil diam-diam berharap bos akan membatalkan niatnya.

2. Coba beri solusi alternatif

Bisa saja atasan Anda merasa tindakan tidak etis ini adalah satu-satunya solusi masalah. Dengan nada sopan, tunjukkan bahwa perintah beliau bertentangan dengan kode etik perusahaan dan berisiko menjerat Anda berdua ke ranah hukum.

Jika memungkinkan, tawarkan solusi alternatif yang lebih dapat dipertanggungjawabkan secara moril.

Sebisa mungkin gunakan nada netral tanpa terkesan menggurui atau mengancam. Yakinkan beliau kalau Anda siap bekerja sama dengan beliau untuk memikirkan alternatif terbaik tanpa mengorbankan moralitas.

3. Pilih jalan Anda

Sampai di titik ini, jika atasan masih juga bersikeras ingin Anda menjalankan perintah tersebut, saatnya menimbang opsi yang ada.

Jika diiyakan, pertimbangkan apakah risiko dari tindakan tersebut memang sebanding dengan kelangsungan atau kemajuan karier di perusahaan tersebut. Bisakah Anda merasa terbebas dari beban moral? Mungkinkah Anda akan disuruh melakukan hal yang sama lagi di masa depan?

Jika Anda memilih untuk menolak, Anda harus siap menanggung risiko bekerja di bawah atasan dengan pola pikir dan etos kerja yang bertentangan dengan nilai moral Anda. Kenyamanan kerja dan kepercayaan antara Anda dan atasan mungkin akan sulit dicapai di masa depan.

4. Membuat laporan

Jika perusahaan Anda menyediakan kanal khusus untuk menyampaikan keluhan atau laporan secara anonim, silahkan dimanfaatkan. Selain itu, sebisa mungkin kumpulkan bukti tertulis berupa email.

Bagaimana jika perintah tersebut sebelumnya disampaikan secara lisan? Coba kirimkan email pada atasan yang meminta beliau untuk menjelaskan kembali perintahnya dan cetak keseluruhan pesan.

Anda juga boleh membuat catatan mendetail sendiri, walau bukti langsung dari atasan lebih meyakinkan. Hadirkan dokumen yang Anda miliki ke manajer HR dan usahakan agar ada pegawai lain yang juga ikut mendengar laporan Anda sebagai saksi.

Bila terbersit niat untuk membawa masalah ini ke muka publik, pelajari larangan yang mungkin ada dalam kontrak kerja Anda dan konsultasikan terlebih dulu dengan kuasa hukum pribadi untuk menghindari konflik di kemudian hari.

5. Siapkan rencana B

Apapun hasil akhirnya, Anda harus mempersiapkan diri. Seperti yang telah disebut di poin di atas, kemungkinan besar Anda bisa kehilangan respek pada atasan dan keseharian Anda di tempat kerja terasa tidak nyaman.

Jika insiden ini terisolasi di departemen dan atasan Anda, antisipasi dengan mencari peluang pindah ke departemen lain. Langkah lainnya, mulailah melakukan pencarian kerja baru.

I-Listeners jangan sampai ketinggalan berita-berita menarik! Terus dengerin 89.6 FM atau bisa streaming di sini. [teks Gabriella Sakareza / sumber qerja.com | foto akriko.com]

Baca juga:
Mari berwisata sejarah ke museum kereta api Ambarawa
Ide perayaan Hari Valentine
Dunia Disney siap meramaikan Indonesia

SHARE