Pembelajaran Jarak Jauh Saat Pandemi Sebabkan Learning Loss, Ini Solusinya

167
0

Ancaman learning loss kini menjadi kekhawatiran pemerintah. Learning loss adalah fenomena di mana sebuah generasi kehilangan kesempatan menambah ilmu karena ada penundaan proses belajar mengajar. Learning Loss disebut menjadi ancaman lantaran pemberlakuan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dalam jangka panjang di masa pandemik COVID-19.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Pembinaan SMA Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Dasar dan Menengah (PAUD Dasmen), Purwadi Sutanto menyebut pembelajaran tatap muka (PTM) merupakan solusi untuk mengatasi hilangnya pembelajaran (learning loss) yang menghantui dunia pendidikan Indonesia akibat pandemi Covid-19.

“Jadi kalau di rumah yang sekolah orang tuanya, bukan anaknya. Banyak anak yang merasa sudah lama tidak bersekolah, ketika ditanya apakah mau Pembelajaran Tatap Muka (PTM) mereka bilang lebih enak Belajar dari Rumah (BDR)”, kata Purwadi dalam acara Media Gathering Zenius x Fortadikbud dengan tema “Cerdas, Cerah, Asyik: Pola Pikir untuk Masa Depan yang Kompetitif,  Rabu (21/4/2021).

Bukan hanya rendahnya motivasi belajar, Purwadi mengatakan bahwa BDR juga membuat para peserta didik, orang tua, dan pendidik kini merasakan stres berkepanjangan.

 

Menanggapi fenomena ini, Chief Education Officer Zenius Sabda PS mengatakan learning loss sudah terjadi sejak dulu. Hanya saja masa pandemi Covid-19 semakin memperparah kondisinya.

“Contoh, misalnya kalau kita naik kelas dengan standar kompetensi diatas 70, lolos bisa naik kelas. Tapi sebetulnya ada hal yang kurang dikuasai secara fundamentalnya, mungkin juga tes-nya kurang tepat, yang ditanya sekedar mengingat menghafal doank bukan berfikir sehingga akumulasi dari kelas 1-5 ada yang kurang. Akhirnya begitu ketinggalan jauh, akhirnya mereka udah males, ahh sudahlah lah, nggak ngerti Matematika. Ini terjadi learning loss. Dari sejak dulu, bukan sekarang doang”, ujar Sabda

Untuk mengatasinya, Sabda menyakini siswa perlu dibekali dengan kemampuan dasar yang penting dimiliki oleh seorang individu. Empat kemampuan itu masing-masing yaitu logika, kemampuan matematis dasar, membaca, dan scientific thinking. Ia memastikan Zenius berusaha untuk membuat materi-materi pembelajaran yang dapat menstimulasi kemampuan dasar tersebut.

“Hal ini merupakan wujud nyata upaya kami dalam membentuk individu yang kompetitif atau kami menyebutnya individu yang cerdas, cerah, dan asyik.” ungkapnya

Ia menjelaskan individu yang cerdas terlatih untuk memiliki pemikiran yang kritis daripada sekadar menghafal. Cerah karena mereka memiliki kemampuan dasar yang membuat mereka lebih percaya diri menjalani kehidupan sehari-hari. Mereka juga asyik karena memiliki kemampuan sosial dan memiliki motivasi untuk terus belajar atau menjadi lifelong learner.

Metode Belajar Siswa Berfikir Kritis

Kondisi learning loss juga sempat diakui dan dialami oleh Indah Shafira semasa ia mengeyam pendidikan menengah. Belajar dengan Zenius sejak 2013, Indah mengakui metode pembelajaran Zenius menjadikan pola pikirnya bertumpu pada inovasi. Lulusan S2 Harvard University ini sekarang bekerja di World Bank.

“Biasakan kita kalau pas SMA kelas 1 dan 2 males-malesan. Kelas 3 itu baru deh panik dah mau UN, SBMPTN. Semua materi dipelajari semua dan itu kebantu banget saat itu dengan teknologi pembelajaran lewat CD. Kita bisa review materi, bisa dicepetin, bisa dilambatin, bisa diulang-ulang. Itu membantu banget yang learning loss tadi. Karena berbagai hal seperti liburan dan hal lainnya”, kata Indah

Selain bertumpu pada inovasi, Indah juga mengaku diajarkan metode dan pendekatan belajar seperti berfikir secara kritis (critical thinking). Hal ini diakuinya menjadi salah satu faktor yang membantunya menggapai pendidikan tinggi  Strata Satu (S1) di Jepang dan Strata Dua (S2) di Amerika Serikat.

Mengenai Zenius, Chief Education Officer Zenius Sabda PS menjelaskan lebih dari 16 tahun, Zenius telah mengajarkan ratusan ribu siswa untuk memiliki pola berpikir kritis. Pola berpikir kritis menjadi salah satu modal bagi siswa meraih pendidikan yang lebih tinggi dan berkarir.

“Sejak 2008, sudah ada 1,5 juta alumni Zenius. Hingga Desember 2020, ada 16 juta siswa yang belajar menggunakan Zenius. Kami juga mengembangkan kecerdasan buatan bernama ZenBot. Fitur ini membantu siswa belajar dengan cara memberikan solusi dari soal-soal sulit dan memberikan rekomendasi materi pembelajaran untuk menguasai soal sulit tersebut. Fitur ini dapat diakses secara gratis lewat aplikasi Zenius atau WhatsApp””, tandas Sabda

Selain mengembangkan konten untuk siswa, Zenius juga telah meluncurkan sistem manajemen pembelajaran Zenius untuk Guru (ZenRu) yang juga dapat diakses secara gratis. Zenius juga bekerja sama dengan dinas pendidikan di berbagai provinsi untuk memberikan pelatihan pada guru dalam memanfaatkan platform Zenius. Tujuannya, agar guru dapat mengelola pembelajaran dengan lebih efisien dan punya lebih banyak waktu untuk berinteraksi dengan siswa.

[teks Pum|foto fortadik]