Jakarta (06/11) Pneumonia menjadi penyakit yang paling banyak menyebabkan kematian pada balita. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, pada tahun 2014 ada 600.682 pneumonia dan 32.025 kasus pneumonia berat.

Menurut Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr.Sigit Priohutomo, MPH, deteksi dini diperlukan agar status gejala pneumonia tidak menjadi pneumonia berat, karena sekitar 60 persen penderita pneumonia berat meninggal dunia.

Untuk itu, dengan peringatan hari Pneumonia 12 November nanti, Kemenkes mengajak masyarakat mewaspadai pneumonia atau radang paru-paru akibat infeksi organisme yang berasal dari virus, bakteri dan jamur.

“Kalo batuk ditutup, jangan disemprot ke orang. Cara lain deteksi dini bisa dengan Tarikan Dada ke Dalam (TDDK)”, ujar Sigit di Jakarta, Jumat, (06/11/2015).

Adanya bencana asap di Indonesia, juga membuat balita lebih rentan terkena pneumonia. Fungsi paru menjadi terganggu akibat paparan asap yang kemudian menghambat pasokan oksigen.

“Pneumonia masih menjadi pembunuh nomer 1 bagi balita. Untuk itu, cegah lewat imunisasi lengkap, giatkan pemberian ASI dan hindari lingkungan jorok kumuh dan kotor termasuk paparan asap akibat kebakaran hutan dan lahan,” tegas Sigit. [teks: @MarbunSaortua| Foto: Depkes.go.id]

SHARE