Anak Mengigau, Ini Penjelasan dan Penanganannya

32
0
Anak mengigau

Ketika Si Kecil tertidur, mungkin Anda pernah melihatnya tertawa geli, berteriak, atau berbicara dalam tidurnya. Hal ini biasa dikenal dengan istilah mengigau, atau proses vokalisasi saat tidur. Akibatnya, terjadi penerapan dari emosi yang sangat kuat dalam alam pikiran bawah sadar. Jika dibiarkan, maka bisa menjadi salah satu gangguan tidur yang cukup menguras energi Si Kecil.

Mengigau biasanya terjadi saat Si Kecil berusia 2 atau 3 tahun, dengan bentuk yang bermacam-macam. Ini tergantung pada bayangan yang sedang terjadi di dalam alam bawah sadarnya.

Dan perilaku mengigau yang paling berbahaya adalah tidur sambil berjalan (sleep-walking). Tidur berjalan dapat terjadi saat dalam kondisi tidur, Si Kecil berjalan menuju tempat yang ia impikan. Gangguan ini harus segera ditangani.

Psikolog dari Universitas Indonesia, Efriyani Djuwita, M.Si, mengatakan bahwa penyebab utama mengigau adalah karena adanya masalah emosional. Maka jika dibiarkan akan berdampak buruk dalam jangka panjang. Jadi, disarankan agar orang tua bisa menangkap sinyal, bahwa igauan Si Kecil karena ia memiliki suatu keinginan terpendam dan belum mampu ia ungkapkan.

Mengapa Si Kecil Mengigau?

Faktor pemicu igauan berbeda-beda pada tiap anak. Berikut adalah beberapa penyebab mengapa Si Kecil mengigau:

1. Tidur dalam kondisi lelah

Masa bermain adalah milik anak-anak di usia dini. Namun, bermain terlalu lama atau terlalu seru menjelang tidur tidak baik untuk perkembangannya. Si Kecil mungkin tidak bisa tidur nyenyak, tidur gelisah, bahkan sampai mengigau.

Hal ini terjadi karena apa yang baru saja dilakukan terbawa hingga ke dalam alam pikiran bawah sadarnya. “Jika ini terus dibiarkan, maka pola tidurnya akan terganggu dan nantinya bisa saja merusak sistem saraf anak,” jelas Efriyani.

2. Mengalami kejadian berkesan

Kejadian berkesan pada momen spesial, seperti mendapat kejutan kado pada hari ulang tahun, akan terekam pada memorinya. Hal tersebut bisa muncul kembali saat ia tidur hingga mengigau. Ketika mengigau, ia bisa saja mengeluarkan kata-kata yang sama saat kejadian sebelumnya atau yang berbeda.

3. Kebutuhan yang tak terpenuhi

Biasanya, kebutuhan yang bisa menyebabkan anak mengigau lebih kepada kebutuhan psikis. Di antaranya ingin didengarkan, diperhatikan, diberi kebebasan, atau ingin didampingi dan ditemani oleh orang tua.

Jika kebutuhan tersebut tidak bisa Anda penuhi, emosi itu tetap tersimpan dalam ingatan dan bisa ia luapkan dalam bentuk igauan. Ungkapan yang mungkin terluap seperti menangis dan menjerit, bahkan menyebut kata ‘mama’, ‘ibu’, atau jenis panggilan Si Kecil pada Anda berkali-kali.

Yang Harus Dilakukan

Secara medis, belum ada metode menghilangkan gangguan tidur ini. Namun, paling tidak Anda dan Si Kecil bisa melakukan hal-hal berikut ini:

1. Menjaga kondisi fisik dan psikis Si Kecil beberapa saat menjelang waktu tidurnya. Hindari ia dari kegiatan fisik seperti berlari atau sesuatu yag membuatnya kaget atau takut. Intervensi positif yang bisa diberikan padanya seperti, membacakan dongeng, mendengarkan musik lembut, atau mengobrol santai.

2. Jaga pola tidur Si Kecil dan upayakan untuk terus mengikuti pola tersebut agar ia tidak mengalami kelelahan atau sakit karena kurang tidur.

3. Ciptakan suasana nyaman dan segar pada ruangan kamar Si Kecil. Jauhkan dari suara bising dan keramaian.

4. Jika Si Kecil mengalami gangguan tidur berjalan, tempatkan ia di kamar yang berada di lantai bawah. Jangan meletakkan hiasan keramik yang mudah pecah, dan kunci pintu kamar Si Kecil agar tidak sampai berjalan keluar dari ruangannya.

5. Bangunkan Si Kecil saat mengigau dengan cara yang lembut dan tidak dengan mengagetkan. Setelah ia bangun, tenangkan Si Kecil dengan memeluk dan mengelus-elus kepala atau punggungnya.

6. Ajak Si Kecil berbicara untuk mengetahui penyebab ia mengigau. Pilih waktu yang tepat untuk berbicara dari hati ke hati dan gunakan bahasa yang sederhana serta mudah dipahami anak. Gunakan nada suara yang lembut dan yakinkan bahwa semua yang ia ceritakan Anda perhatikan.

7. Ajaklah Si Kecil berekreasi ke tempat yang tenang, supaya pikirannya lebih jernih dan segar. Rekreasi juga menjadi media komunikasi antara Anda dan Si Kecil untuk saling bercerita.

Bisakah Mengigau Berhenti?

Hal ini umumnya terjadi hanya sementara saja. “Saat beranjak remaja, gangguan ini biasanya tidak muncul lagi, karena proses kerja sistem saraf pada otak akan semakin matang. Sebab, simpul saraf otak telah mampu meluruskan gambaran aktivitas yang dialaminya dan mengontrol emosi yang dirasakannya,” ujar Efriyani.

Namun, jika gangguan ini terus berlanjut hingga remaja, bawa anak segera ke psikiater untuk mendapatkan konsultasi dan terapi khusus.

Tak hanya psikiater, orang-orang di sekitarnya pun harus bisa mendukung terapi tersebut. Misalnya, tidak membuat suasana rumah menjadi bising atau ramai. Sehingga secara perlahan, Si Kecil akan tidur tenang tanpa mengigau. (M&B/Vonia Lucky/SW/Dok. Freepik)

Sumber artikel dari Mother and Baby Indonesia

LEAVE A REPLY