Ngobrol Santai Bersama Pemeran Film Aruna dan Lidahnya

32

Sudah bukan rahasia lagi bahwa kota Singkawang di Kalimantan Barat menjadi salah satu lokasi syuting film bertajuk Aruna dan Lidahnya.

Berjarak empat jam dari Pontianak, Bazaar pun akhirnya tiba di Rusen Kopitiam yang letaknya berdekatan dengan Vihara tertua di Kota 1000 Klenteng ini, Vihara Tri Dharma Bumi Raya.

Edwin di lokasi syuting film Aruna dan Lidahnya, kota Singkawang.

Bazaar mendapatkan kesempatan untuk berbincang langsung dengan keempat pemain utama dari film adaptasi novel karya Laksmi Pamuntjak, yang menjadi menu baru di industri perfilman Indonesia.

Dian Sastro, Nicholas Saputra, Edwin, Edy, Aruna dan Lidahnya, Palari Films

Para aktor dari film tersebut adalah Dian Sastrowardoyo yang berperan sebagai Aruna, seorang ahli wabah yang memiliki hobi makan, lalu dua sahabat Aruna yang diperankan oleh Hannah Al Rashid (Nad) dan Nicholas Saputra (Bono), ada pula Oka Antara (Farish) seorang lelaki yang memiliki prinsip berbeda dari ketiga karakter lainnya.

Mereka berempat dipertemukan atas dasar kuliner dan cita rasa dari sebuah hidangan, mereka menikmati manis, asin, dan mungkin juga, pahitnya rasa persahabatan dan asmara yang menjadi ujian setiap insan.

Nicholas Saputra di Singkawang saat syuting film Aruna dan Lidahnya

Terlepas dari dapur Aruna dan Lidahnya, Bazaar bercengkerama dengan keempat aktor tersebut mengenai pengalaman pribadi mereka tentang kuliner dan juga dunia perfilman Tanah Air.

Suasana syuting di Singkawang untuk film Aruna dan Lidahnya

Harper’s Bazaar (HB): Apa pendapat Anda tentang industri film Indonesia sekarang?

Nicholas Saputra (NS): Sekarang memang banyak sekali film Indonesia yang memecahkan rekor baru, saya berharap ini akan terus bertahan. Satu lagi yang saya inginkan dari industri film kita ini, yaitu tetap menawarkan sesuatu yang baru, jangan hanya mengikuti tren.

Hannah Al Rashid (HR): Menurut saya, industri film kita masih belum terlalu stabil, meskipun jumlah penonton selalu naik di dalam tiga tahun belakangan ini. Untuk kedepannya, saya berharap untuk melihat cerita yang lebih variatif, dan juga makin banyak panggung untuk film indie.

Dian Sastro saat syuting film Aruna dan Lidahnya

HB: Pengalaman yang paling mengesankan untuk sebuah makanan?

Dian Sastro (DS): Saya sangat suka dengan percampuran antara beetroot dan feta cheese, karena sensasinya menarik sekali. Ada asam, manis, dan juga segar. Semuanya berawal dari sebuah quinoa salad yang diracik oleh sepupu saya. Di dalamnya ada quinoa, almond, cheese, beetroot, pumpkin, jeruk sunkist, dan juga brokoli; semuanya kalau dimakan berbarengan hasilnya crunchy dan fresh banget. Nah, waktu saya liburan di kota London tahun lalu, saya pesan frittata, dan waktu saya makan, saya mendapatkan sensasi simfoni yang sama.

HR: Makanan favorit saya adalah Doner Kebab, lamb doner terutama. Craziest thing happened to me, waktu saya masih kecil, gigi saya lepas saat saya makan lamb doner kebab. Jadi mungkin dari kecil saya sudah ada ikatan yang kuat dengan makanan tersebut, ujar Hannah sambil tertawa.

Suasana lokasi syuting film Aruna dan Lidahnya di kota Singkawang

HB: Kalau sedang sakit, makanan apa yang paling dirindukan?

OA: Makanan-makanan yang berkuah, yang hangat.

NS: Sop Ayam, sih.

HR: Hummus yang disajikan dengan Toasted Pita Bread, untuk saya itu home comfort food, banget.

 

Behind the Scene film Aruna dan Lidahnya di kota Singkawang

HB: Proses casting dari film Aruna dan Lidahnya yang paling berkesan?

HR: Tidak ada proses casting, tapi yang paling menarik adalah saat reading. Karena disitu saya melihat perspektif orang yang berbeda. Jadi dari saya beda, Dian beda, Oka beda, begitu juga dengan Nico. Tapi pada akhirnya, Edwin bisa menarik kita semua lagi ke arah yang benar.

OA: Untuk karakter Farish, maupun adegan, saya bisa chip-in ide. Terutama dengan Dian, karena adegan saya lebih banyak dengan dia, dan kita lumayan memasak ide itu di set, banyak yang spontan dan lucu.

 

Hannah Al Rashid dan Edwin saat rehat syuting film Aruna dan Lidahnya di kota Singkawang

 

HB: Di dunia yang serba digital seperti sekarang ini, kegiatan apa yang seharusnya lebih sering dilakukan?

DS: Kontemplasi diri agar tidak kehilangan arah.

NS: Memulai percakapan dengan orang asing.

HR: Harus lebih banyak tertawa. Moto saya adalah jika Anda tidak tertawa, Anda hanya akan menangis. Jadi, tertawalah.

(Foto: Courtesy of Davy Linggar)

Source: Harpers Bazaar Indonesia