Duka Warga Lombok, dari Kekurangan Air Bersih hingga Pembangunan Rumah Korban

119
0

Gempa berkekuatan 7.0 Scala Richter (SR) mengguncang Lombok dan daerah sekitarnya di Nusa Tenggara Barat hingga Bali pada 5 Agustus 2018. Bencana alam tersebut telah menelan 555 orang per 23 Agustus, dan sebanyak 390.259 orang mengungsi. Selain korban jiwa, Penanganan Darurat Bencana Gempa Lombok menyatakan sebanyak 23.098 rumah rusak.

Selain angka-angka di atas, kondisi Lombok dan daerah terkena dampak lainnya dapat disimak berikut ini:

Gempa 5 Agustus 2018 merupakan terbesar dalam sejarah Lombok

Gempa di Lombok sudah pernah terjadi pada tahun 1856, 1978, 1979, dan terakhir terjadi tahun 2000. Dari keempat gempa itu, tidak ada yang pernah melewati 6.7 SR sehingga gempa tahun 2018 ini, baik gempa utama maupun susulan, merupakan yang terbesar dalam sejarah Lombok.

Gempa tersebut merupakan lanjutan dari gempa tanggal 29 Juli

Kedua gempa ini ternyata saling berhubungan, maka itu disebut gempa kembar atau biasa disebut dengan doublet earthquakes.

Menurut M. Arifin Joko Pradipto, Kepala Sub Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Wilayah Timur Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, gempa tersebut memenuhi syarat untuk dapat dikategorikan sebagai gempa kembar, yaitu:

  • Pusat gempa keduanya berdekatan karena berjarak kurang dari 10 kilometer;
  • Memiliki kekuatan yang relatif sama;
  • Mekanismenya sama persis;
  • Dan berada di jalur yang sama, meski retakannya bergerak.

Gempa disebabkan oleh thrust fault

Lombok terletak pada lempeng seismik aktif, menyebabkan retaknya lempeng tersebut sangat dalam sehingga dapat menimbulkan potensi tsunami meskipun episentrumnya terletak di darat.

Tsunami benar terjadi

Tidak seperti tsunami yang dibayangkan, gulungan air laut menyambar daratan secara cepat dan kencang tetapi mempunyai ketinggian hanya 10-13 cm.

Tanah naik 25 sentimeter

Gempa beruntun tersebut menyebabkan static stress, yang menghasilkan lempeng berbenturan ke arah atas. Pada bagian barat laut Pulau Lombok, terdapat tanah yang naik setinggi 25 cm menurut pantauan NASA.

124 gempa susulan terjadi sampai sehari setelahnya

Hingga 6 Agustus, sebanyak 10 gempa susulan terasa dari total sebanyak 124 gempa susulan.

Tanggal 19 Agustus, kembali dilanda gempa 6.9 SR

Pada 20 Agustus, ada 280 gempa susulan dari gempa 6.9 SR di hari sebelumnya. Gempa tersebut menyebabkan salah satu tiang listrik runtuh menimbun rumah penduduk dan menimbulkan percikan api akibat arus pendek. Sebanyak kurang lebih 23 rumah hangus terbakar.

Trauma hebat hingga rela tidur di trotoar

Para korban bencana alam ini mempunyai trauma tersendiri terhadap berada di bawah atap, maka itu mereka lebih rela untuk tidur di trotoar di pinggir jalan yang tidak ada atap di atasnya.

Kerusakan mencapai angka 75 persen dan diperkirakan 4 triliun

Bisa dikatakan “menyatu dengan tanah” karena hampir tidak terlihat lagi bangunan rumahnya. Total kerugian akibat kerusakan sejauh ini ditaksir sebesar 4 triliun rupiah.

Polisi mendirikan tenda besar berkapasitas 100 orang

Pendirian tenda tersebut untuk kantor darurat sambil menunggu keadaan stabil dan membangun kembali posnya dan ada di beberapa titik. Pendirian diawasi langsung saat Kapolri Tito Karnavian dengan turun ke lokasi yang terkena dampak gempa dahsyat itu.

Bantuan terhalang alat komunikasi

Bantuan makanan, minuman, air, medis, dan semacamnya terhalang oleh komunikasi yang minim karena jaringan terputus di lokasi kejadian.

Korban bencana kekurangan air bersih

Sebagaimana dilansir Kompas.com, 27 Agustus 2018, sumber air di Propok yang berada di jalur penddakian Gunung Rinjani di Terean tertutup longsor pasca gempa. Akibatnya 304 kepala keluarga dengan 986 jiwa di Dusun Sanjang mengalami kekurangan air bersih.

Gedung sekolah sebagai tempat pengungsi

Sampai saat ini banyak gedung sekolah yang masih layak digunakan untuk menampung pengungsian. Hal itu membuat Dinas Pendidikan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), belum bisa melaksanakan sekolah darurat pasca gempa.

Rumah korban gempa harus selesai dibangun dalam 6 bulan

Masih dari Kompas.com, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono, mengatakan, rumah korban gempa harus selesai dalam enam bulan ke depan.

Menurut data sementara, ada 11 ribu unit rumah warga yang sudah masuk dalam data. Rumah-rumah tersebut akan segera dibangun dan selesai dalam waktu 6 bulan. Total kerusakan rumah akibat gempa mencapai puluhan ribu unit.

Evakuasi terhalang kurangnya alat berat

Karena gempa terjadi pada waktu Sholat Isya, banyak sekali jemaah yang masih menunaikan ibadah terjebak di dalam gedung mesjid atau mushola. Dan karena banyaknya orang yang harus dievakuasi di antara reruntuhan yang sudah menyatu dengan daratan, TNI merasa kekurangan alat berat.

Yuk, mari kita bantu saudara-saudara kita yang membutuhkan uluran tangan kita. Berbagai macam saluran untuk membantu mereka terbuka secara luas, mulai dari Bazarnas hingga Palang Merah Indonesia atau bisa lihat image di bawah ini:

Sumber dan foto: Brilio.net, Kumparan.com, Liputan6, Detik.com, Kompas.com, IDN Times, BangkaPos.

LEAVE A REPLY