Tiket Mahal, PT KAI Optimis Penumpang Pesawat beralih ke Kereta Api

53

Jakarta (24/01) PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi 1 Jakarta menargetkan volume angkutan penumpang pada tahun ini mencapai 20,4 juta. Jumlah tersebut meningkat 7 persen dibanding capaian volume penumpang di tahun 2018 yang mencapai 19,1 juta penumpang.

Executive Vice President Daop 1 Jakarta, Dadan Rudiansyah, mengaku optimistis target bisa tercapai karena diprediksi akan banyak penumpang pesawat yang beralih menggunakan kereta menyusul mahalnya harga tiket pesawat saat ini.

Kami mencoba buat kuisioner atau semacam penelitian, secara umum memang terjadi peningkatan penumpang PT KAI karena beralih dari pesawat. Mungkin karena harga tiket mahal dan beberapa kejadian kecelakaan pesawat. Itu kami tanya-tanya penumpang di kereta slipper car dan eksekutif,” kata Dadan saat ditemui di Jakarta Pusat, Kamis (24/1).

Adapun rincian realisasi volume penumpang tahun 2018 terdiri dari penumpang KA Eksekutif sebanyak 3,6 juta, kelas bisnis 613 ribu, kelas ekonomi 6,9 juta, dan KA Lokal 8,01 juta.

Demi mencapai target di tahun ini, sejumlah langkah dilakukan PT KAI Daops 1 Jakarta, diantaranya dengan menggunakan kereta baru yang dipesan dari PT INKA tahun ini.

PT KAI telah memesan sebanyak 438 kereta dengan 36 trainset. Sebanyak 26 trainset sudah jadi dan 8 trainset rencana akan didatangkan sebelum Hari Raya Lebaran tahun ini.

Salah satu untuk menggaet penumpang, khususnya penumpang pesawat kan dengan menyediakan layanan minimal setara dengan pesawat. Jadi tidak terlalu jomplang. Makanya dengan adanya kereta baru diharapkan penumpang nyaman,” tambahnya.

Selain peningkatan okupansi penumpang, PT KAI (Persero) Daerah Operasional 1 juga menargetkan peningkatan jumlah angkutan barang sekitar 12 persen atau menjadi 5,6 juta ton. Padahal, jumlah angkutan barang ini meningkat signifikan di tahun 2018, mencapai 48 persen, dibanding tahun sebelumnya yakni sebesar 3,3 juta ton.

Executive Vice President KAI Daop 1, R. Dadan Rudiansyah, mengaku pihaknya tak mau memasang target terlalu tinggi. Hal ini dikarenakan persediaan lokomotif yang juga terbatas.

Kita memang tidak mau terlalu ambisius karena saat ini kerjaan kita terhalang di lokomotif. Saat ini akan banyak kereta api (KA) baru yang butuh lokomotif. Kereta penumpang respons dan tuntutannya sangat banyak jadi kita juga harus sesuaikan lokomotifnya,” tutupnya.

[teks timnewsroom | foto tirto]