Kenali dan Atasi Tanda Speech Delay pada Balita

27

Berkembangnya kosa kata anak adalah salah satu milestones yang paling dinanti-nantikan setiap orang tua. Dengan kemampuan berbahasa yang (cukup) baik, anak akan lebih mudah menyampaikan keinginannya dan orang tua akan lebih mudah memahaminya tanpa perlu menebak-nebak hanya dari perilaku anak. Yang artinya, bisa mengurangi kemungkinan Si Kecil untuk tantrum.

Memang, sih, perkembangan setiap anak berbeda. Tapi jika Anda menangkap sinyal-sinyal di bawah ini, Ada baiknya Anda waspada dan segera melakukan evaluasi:

1. Usia 12 bulan: tidak mengoceh, menunjuk untuk memberi tahu sesuatu, atau mengikuti gerak-gerik Anda.

2. Usia 15 bulan: belum mengucapkan minimal 3 kata, tidak melihat atau menunjuk minimal 5 dari 10 objek yang disebutkan.

3. Usia 18 bulan: tidak mengikuti sedikitnya 1 instruksi, tidak bisa mengatakan kata singkat perulangan seperti mama, papa, baba, dada.

4. Usia 2 tahun: tidak menunjuk gambar atau anggota tubuh yang disebutkan, tidak mengucapkan minimal 25 kata.

5. Usia 2,5 tahun: tidak merespons secara verbal, mengangguk atau menggelengkan kepala, tidak dapat menggabungkan dua kata.

6. Usia 3 tahun: Tidak mengucapkan minimal 200 kata, tidak memahami dan mengikuti instruksi, tidak dapat menyebutkan keinginannya, merespons pertanyaan Anda dengan mengulang kembali kalimat Anda.

Lalu, bagaimana cara untuk menstimulasi anak yang bisa Anda lakukan sedari dini untuk mencegah terjadinya speech delay? Anda bisa melakukan beberapa hal berikut!

1. Ngobrol, Yuk!

Otak bayi sudah ‘ditakdirkan’ untuk mudah menyerap dan mengingat apa pun yang ia lihat dan dengar, apalagi jika dilakukan berkali-kali. Berbicaralah padanya mengenai aktivitas yang Anda dan Si Kecil lakukan, seperti pada saat mengganti baju atau popoknya. Tunjukkan padanya “Ini popok, ini baju, ini tanganmu, masukkan ke sini, ya”, dan sebagainya.

2. Bertanya dan Beri Waktu Ekstra untuk Merespons

Sering berbicara bukan berarti Anda harus memonopoli pembicaraan. Cobalah untuk mengajukan pertanyaan sederhana seperti “Kamu mengantuk?”, “Kamu lapar?” dan beri jeda sekitar 10 detik untuk memancing Si Kecil untuk menjawabnya.

3. Bacakan Buku Cerita

Pilih buku dengan gambar-gambar serta cerita yang menarik, dan bacakan secara rutin, misalnya menjelang waktu tidur. Ceritakan dengan nada suara yang menarik dan jelaskan padanya setiap gambar yang ada di dalam buku. Ini bisa membuat Si Kecil lebih fokus dan tertarik dengan kata-kata yang terdapat dalam buku.

4. Beri Pilihan saat Bertanya

Ketimbang mengajukan pertanyaan yang hanya butuh jawaban “ya” atau “tidak”, berikan ia pilihan untuk mengembangkan kosa katanya. Misalnya, “Kamu mau jeruk atau apel?” sambil menunjukan jeruk di tangan kanan dan apel di tangan kiri.

5. Stop Ikut-Ikutan Babbling

Banyak orang tua yang tidak sadar mengikuti apa yang anak mereka lakukan saat berkomunikasi. Cobalah untuk tidak terlalu sering mengeluarkan sound effect seperti “tung tang ting tung, ngeng ngeng” dan sebagainya karena hal itu justru akan menghambat perkembangan kosa kata Si Kecil.

6. Jangan Terjebak Bahasa Bayi

Wajar apabila di awal usianya, anak Anda tidak bisa mengucapkan kata-kata secara sempurna, seperti: mimi untuk minum, mam untuk makan. Yang tidak wajar adalah apabila Anda ikut-ikutan berbahasa bayi. Misalnya, anak Anda menujuk gelas sambil berkata “mimi”. Ketimbang membalas “Mau mimi cucu, ya”, lebih baik katakan “Kamu mau minum susu, ya?”

7. Berhenti Suguhkan Mainan/Tontonan dengan Bahasa Planet

Banyak film kartun berbicara dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh alien sekali pun. Hal itu adalah cara ‘jitu’ untuk membuat anak Anda semakin lambat mempelajari cara berkomunikasi. Jadi, bijaklah untuk memberikan tontonan, sekali pun itu film anak-anak, dan selalu dampingi serta jelaskan jalan cerita di film tersebut.

8. Bermain Telepon

Coba permainan yang melibatkan banyak aktivitas berbicara, seperti mengobrol lewat telepon. Anda bisa menyediakan mainan telepon, lalu berkata, “Sayang, ayah menelpon dari kantor, yuk, kita angkat teleponnya dan ngobrol dengan ayah”. (Nanda Djohan/SW/Dok. Freepik)

Sumber Mother and Baby Indonesia