Anak Belajar Mengalah, Tapi Bukan untuk Kalah

24
Anak-anak

Jika Si Kecil senang mengalah, bukan berarti dia kalah. Akan tetapi kalau mengalah pada saat yang salah, bisa membuat ia benar-benar kalah!

Tahukah Anda? Salah satu indikasi kematangan emosi anak adalah dengan melihat bagaimana ia menghadapi “konflik”. Ada sebagian anak yang memilih untuk mengalah ketika harus berseteru dengan teman atau saudaranya.

Sikap mengalah sesungguhnya sangat baik. Artinya, anak Anda sudah memiliki kemampuan mengontrol emosi. Ia sudah tidak mementingkan diri sendiri lagi.

Sikap ini mulai terlihat saat Si Kecil senang bermain dengan teman-temannya, yaitu sekitar usia 4-5 tahun. Dari sikap mengalah ini, ia akan belajar nilai-nilai kehidupan prososial yang diperlukan saat dewasa kelak.

Psikolog anak, Roslina Verauli, mengatakan bahwa sikap mengalah bagai dua sisi mata uang. Di satu sisi sangat baik untuk membentuk pribadi prososial, apalagi jika sikap itu didasarkan kemauan sendiri. Dengan kata lain, Si Kecil telah memiliki emosi yang matang karena bisa membuat keputusan guna menghindari konflik.

Di sisi lain, Anda patut waspada apabila sikap mengalah Si Kecil terjadi berulang-ulang, terutama jika dilakukan karena adanya tekanan dari lingkungan. Sikap tersebut bisa berdampak buruk terhadap perkembangan anak Anda nantinya.

“Kalau sikap mengalah pada anak terasa berlebihan, keakuannya menjadi tidak berkembang. Ia bisa menjadi anak yang tidak percaya diri, tidak dapat mengungkapkan kemauan, dan tidak memiliki inisiatif,” jelas Roslina.

Terbentuk dari Kebiasaan

Sikap mengalah yang terlalu berlebihan semacam ini dibentuk dari kebiasaan sehari-hari, seperti mengalah kepada adik. Ketika terjadi konflik antara si kakak dan si adik, misalnya dalam memperebutkan mainan, seringkali si kakak diminta mengalah.

Alasannya karena si kakak lebih tua, seharusnya menjadi panutan bagi si adik. Sebenarnya si kakak tidak harus selalu mengalah lho, apalagi jika mainan tersebut memang miliknya. Anda hanya perlu memberitahu bahwa berbagi dengan adik adalah perbuatan terpuji.

“Mengalah pada adik memang bagus. Akan tetapi bukan berarti si kakak harus selalu mengalah. Anak harus diajarkan untuk mengalah pada porsinya agar bisa berlaku adil,” kata Roslina.

Dampak buruk dari sikap selalu mengalah bukan hanya akan terjadi pada si kakak, melainkan juga pada adiknya. Terlalu sering dibiarkan jadi ‘pemenang’, si adik tidak akan bisa berkembang karena terbiasa dibantu orang lain.

Kurang Bersosialisasi

Kurang kesempatan bermain dengan teman sebaya ternyata juga berpengaruh pada perkembangan sikap dan emosi Si Kecil. Ketika suatu saat anak Anda berada di antara teman-temannya, ia akan menjadi canggung dan tidak percaya diri. Akibatnya, ia tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Kondisi ini membuat anak cenderung memilih untuk lebih banyak mengalah dan menuruti permintaan teman-temannya. O iya, kurang bersosialisasi juga membuat Si Kecil tidak memiliki banyak teman. Jika tak menuruti kemauan teman-temannya, ia bakal merasa takut kehilangan teman yang hanya sedikit itu.

Sikap Otoriter Orang Tua

Perlu diingat, Anda juga harus berhati-hati dalam bersikap pada Si Kecil. Sikap yang terlalu keras dalam mengasuh anak juga bisa bisa menimbulkan kebiasaan selalu mengalah.

Misalnya, Anda sering melarang atau memarahi Si Kecil yang ingin melakukan sesuatu, sehingga ia tak memiliki kesempatan untuk bereksplorasi dan mengungkapkan pendapat. Kondisi ini akan membuat Si Kecil merasa ragu dan takut untuk melakukan apa pun, termasuk untuk menolak permintaan teman yang mungkin merugikan dirinya.

Mengingat Si Kecil hanya menuruti kata-kata Anda, ia akan menjadi anak yang tidak memiliki inisiatif. “Kalau sikap ini berlebihan, bisa membuat Si Kecil tidak percaya diri serta ragu-ragu terhadap dirinya sendiri,” ungkap Roslina.

Bantu Anak Menjadi Pemenang

Ada banyak cara yang bisa Anda lakukan untuk mengajari Si Kecil mengalah pada waktu yang tepat. Berikut adalah beberapa di antaranya:

1. Jangan terlalu mencampuri

Jika terjadi konflik antara si kakak dan si adik, biarkan mereka menyelesaikannya sendiri. Kebiasaan ini juga akan melatih kemampuan anak dalam mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapi.

“Sebaiknya orang tua tidak terlalu melibatkan diri dalam situasi konflik ini, kecuali jika mereka mulai main fisik,” ujar Roslina.

2. Ajari berkata “tidak”

Ajari anak Anda untuk mengungkapkan pendapat, termasuk berkata tidak saat ada hal-hal yang membuatnya tidak nyaman. Agar ia mampu bersikap seperti itu, Anda tentunya harus menanamkan rasa percaya diri kepada anak Anda.

Anda bisa mengatakan kepada Si Kecil bahwa ia sama hebatnya dengan teman-teman yang lain sehingga tak takut lagi untuk mengutarakan pendapat.

3. Perbanyak sosialisasi

Beri kesempatan Si Kecil untuk bermain bersama teman-teman sebayanya, misalnya dengan mengajak ia ke acara keluarga yang juga dihadiri oleh banyak anak-anak seusianya.

4. Beri pujian

Jika Si Kecil berhasil mengubah sikapnya sehingga tahu saat yang tepat untuk mengalah, jangan ragu memberikan pujian. Kata-kata manis yang terucap dari mulut Anda akan membuat anak merasa percaya diri bahwa sikapnya memang benar. (M&B/Wieta Rachmatia/SW/Dok. Freepik)

Sumber artikel dari Mother and Baby Indonesia