Gubernur DKI Jakarta Sylviana Murni

IRadio Namu Spesial Pilkada DKI Jakarta kali ini, Sylviana Murni, 58 tahun. Dia wakil calon gubernur Jakarta nomor urut satu. Pasangan dari calon gubernur Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Edisi namu Sylviana berbeda dengan lainnya. Karena penyiar Tommy Prabowo tidak mewawancarai mantan walikota Jakarta Pusat itu di kediamannya, melainkan ikut blusukan ke kawasan Rawasari, Jakarta Pusat.

Seperti apa perbincangannya, simak obrolannya berikut ini, I-Listeners!

Menjalani 11 jabatan yang berbeda-beda selama hampir 31 tahun. Kemudian mundur meninggalkan posisi sebagai deputi gubenur bidang pariwisata dan kebudayaan Provinsi DKI Jakarta. Mungkin karena sudah eselon 1 harus ada tantangan lain, atau ada sesuatu menjadi calling untuk akhirnya Anda yakin?

“Sebenarnya saya nggak pernah mimpi untuk bisa menjadi wakil gubernur atau dilamar. Saya sudah nyaman menjadi PNS. Bahkan saya ingin setelah ini geser menjadi dosen.

Namun kok tiba-tiba datang satu hal yang tak terduga-duga, yang menurut saya ini sebuah karunia yang luar biasa. Tiba-tiba ada yang melamar saya, dan saya istikharah betul bahwa apakah ini tempat yang terbaik yang penuh berkah dari Allah untuk saya.

Setelah saya istikharah kok rasanya saya mantap untuk mengundurkan diri.”

Yang paling menarik adalah anggaran janji program 1 miliar per RW (Rukun Warga). Bagaimana syaratnya, dan nanti program pendanaannya sendiri darimana?

“Soal 1M, kita berpikir bahwa ini dalam rangkaian pembangunan atau peningkatan empowerment, pemberdayaan dari komunitas.

Ini konsepnya adalah pembangunan yang partisipatif, jadi masyarakat itu harus involve betul dengan kita. Tidak mungkin pemerintah daerah sendirian.

1 M itu untuk apa? Untuk hal-hal yang tidak dianggarakan lewat dinas-dinas terkait. Kemudian untuk apa? Ya itulah, kalau ini dianggap tidak ada dana yang padahal masyarakat sangat membutuhkan, sementara dinas-dinas tidak mengalokasikan anggaran, maka anggaran itu bisa digunakan dari dana 1M untuk RW.

Kemudian, bagaimana caranya? Kita sudah siapkan, draft pedoman penggunaan dana 1 M. Semuanya harus melalui rekening, jadi tidak bisa langsung cash.

Jadi kita harus program dulu kemudian kita anggarkan. Kalau memang tidak memungkinkan, ini bisa untuk tidak dicairkan.”

Gubernur DKI Jakarta Sylviana Murni 2

Bersanding dengan AHY, mungkin Anda baru kenal betul dengannya sekitar September kemarin. Rajin berkomunikasikah, lewat WhatsApp misalnya?

“Nyaris hampir tidak mengenal waktu. Kita harus punya yang namanya depth interview, itu harus terjadi. Kalau saya sedang ragu, atau mas Agus ingin meyakinkan dirinya, beliau selalu telepon saya atau saya yang WhatsApp beliau. Jadi kita selalu keep in touch.

Kemudian yang saya juga merasa sangat bersyukur, beliau itu punya emotional intelligence. Otak kanannya luar biasa. Jadi keseimbangan antar otak kanan dan otak kiri inilah yang menurut saya sangat pantas menjadi seorang gubernur.

Pimpinan DKI Jakarta, yang betul-betul punya warga yang sangat kompleks, yang multi etnik, multi agama juga, harus betul-betul bekerja secara cepat, tepat sasaran, tapi mampu mengendalikan emosinya.”

Satu kata yang menggambarkan sosok AHY?

“Tegas!”

Hari H pemungutan suara semakin dekat. Ada rasa nervous?

“Ya kalau nervous itu manusiawi ya, dan saya sudah terbiasa nervous menghadapi kompetisi. Saya nggak pernah menganggap pesaing-pesaing saya ini kompetitor.

Jadi caranya bagaimana? Oh, mereka adalah mitra kita. Selama perjalanan hidup dan karier saya, saya juga selalu menerapkan itu.

Jadi artinya kalau saya ingin mereka berbuat baik kepada saya, saya pasti akan berbuat baik terlebih dahulu kepada mereka.”

Gubernur DKI Jakarta Sylviana Murni 2

Saingan yang paling berat menurut Anda?

“Semua saya anggap sama berat.”

Saya dengar di rumah Anda punya meja demokrasi? Seperti apa, dan bagaimana menciptakan meja demokrasi di rumah?

“Orang tua saya memiliki 10 anak, termasuk saya. Perempuan 9, laki-laki 1. Kita punya meja makan 12 kursi, jadi 10 kita bersaudara, 2 itu papa sama mama.

Jadi itu kesempatan orang tua saya untuk men-drill kita agar kita berani berdebat, kemudian berani menghargai pendapat orang, karena demokrasi harus seperti itu.

Kemudian kita berani mempertahankan pendapat, dengan argumentasi yang rasional, dengan dasar-dasar yang logis, baik dasar hukum maupun dasar secara realita.

Nah, saya anggap ini bagus, melatih saya untuk berdemokrasi, melatih pendapat orang, saya terapkan. Dan kebetulan suami saya juga seperti itu.”

Kalau dari putra-putri sendiri ada yang mengarah ke birokrat juga, atau dari cucu ada yang sudah punya passion ke sana?

“Jadi kalau dua anak saya itu, sepertinya tidak ada minat ke PNS. Kenapa? Dia ingin menciptakan pekerjaan.

Dia bilang “udahlah cukup mama yang jadi PNS, kita yang menciptakan lapangan pekerjaan,”.

Anak saya yang pertama adalah seorang entrepreneur sekaligus dosen. Anak saya yang kedua adalah dokter, Insyaallah spesialis sebentar lagi.”

Gubernur DKI Jakarta Sylviana Murni 3

Anda seorang ibu dan nenek yang seperti apa?

“Hmmm… cerewet ya. Cerewet tapi ingin menyenangkan orang. Jadi ingin menyenangkan suami. Saya sering buat surprise-surprise.”

Sekarang Jakarta tidak hanya milik orang Betawi, sudah benar-benar multi kultural. Bagaimana Anda menghadapi kekayaan yang luar biasa di Jakarta ini?

“Kita harus egaliter, karena memang masyarakat Betawi ini egaliter. Tapi tetap kita harus arif, kalau perlu kita selalu melakukan yang namanya harmonisasi, karena itu konsep saya harmony in diversity atau unity in diversity.

Dan terakhir saya ingin menyampaikan motto hidup saya. Bekerja keraslah dengan cerdas, tapi dengan hati. Kita nggak boleh kerja dengan malas, harus bekerja keras, tapi cerdas. Nah itulah motto hidup saya.”

I-Listeners jangan sampai ketinggalan berita-berita menarik! Terus dengerin 89.6 FM atau bisa streaming di sini.