Kedai Havelaar, Tempat Makan “dengan” Sejarah

67

Saat ini, berbisnis kuliner tidak bisa hanya mengandalkan rasa saja, tapi juga melibatkan kreativitas di dalamnya. Salah satu tempat makan yang menjalankan konsep tersebut ialah Kedai Havelaar. Asal kata Havelaar sendiri — yang mungkin kamu sudah tahu –terinspirasi dari judul novel kontroversial jaman pemerintah kolonial Belanda, yakni Max Havelaar karya Multatuli.

Novel tersebut berisi kritikan terhadap kebijakan balas budi atau politik etis yang dilakukan pemerintah Belanda terhadap masyarakat pribumi yang telah membuat Belanda lebih makmur. Kebijakan ini menimbulkan kesadaran dan gerakan nasionalisme di dalam diri founding fathers negara ini dan ambience itulah yang dicoba diusung di kedai ini.

Dari mulai pajangan foto-foto pejuang nasional yang tertempel di sisi-sisi dinding, hingga musik yang diputarkan untuk menemani para tamu. Bahkan uniknya, ada taplak meja yang dikemas seperti selembar koran di era kolonoal yang terdapat artikel-artikel jaman dulu, yang mungkin jadi bacaan untuk menunggu pesanan datang.

Pengunjung bisa membaca mengenai pergerakan perusahaan VOC dan pergerakan pahlawan-pahlawan kita dalam merebut kemenangan.

Yusephine DS, pemilik Kedai Havelaar, rupanya sengaja membuat konsep ini agar konsumen tidak hanya sekedar datang, dan pulang setelah kenyang. Tapi juga bisa menambah value dalam dirinya dengan lebih mengenal sejarah Indonesia, khususnya para anak muda.

Sebab, di era digital ini, banyak anak-anak muda banyak fokus pada ponsel pintar dan mengeksplore aplikasi di dalamnya sehingga kurang mengetahui atau mendalami cerita dibalik usaha pahlawan merebut kemerdekaan atau sejarah lainnya yang berkaitan dengan berdirinya Indonesia. Efeknya, rasa nasionalisme mulai luntur.

Nah, semoga saja dengan konsep tempat makan yang kami usung, membuat rasa nasionalisme bisa tumbuh. Mereka bisa mengetahui lewat artikel dari alas makan mereka,” katanya di Kedai Havelaar, beberapa waktu lalu.

Soal rasa makanan, Yusephine memilih menu sate sebagai menu andalannya dalam ‘pertarungan’ dengan tempat makan lain. Ia merasa sate di kedainya berbeda dan bercitasa rasa enak, yang mungkin tidak ada di warung sate biasa.

“Kami memakai daging yang sangat fresh. Kami membelinya di pagi hari tempat pemotongan sapi, kemudian langsung kami bumbui dengan cara khusus. Alhasil, dagingnya bisa terasa empuk,” urai Yusephine beralasan.

“Menu-menu makanan yang kami sajikan adalah menu-menu makanan yang sangat disukai oleh para pejuang kemerdekaan dan masyarakat pada umumnya. Contohnya, Bung Karno sangat menyukai sayur lodeh, tempe goreng, rawon dan sate. Bung Hatta menyukai sayur buncis dan sate. Sudirman sangat menyukai minum teh, Syutan Syahrir suka makan sate kambing dan Sri Sultan HB IX santa menyukai juga sate kambing,” ujar dia.

Tapi, tidak perlu takut, di restoran ini juga terdapat menu makan kekinian, seperti sate taichan dan es kepal yang sedang digandrungi masyarakat.

“Dengan apa yang berkembang di luar, dan kami sudah punya menu andalan, bukan berarti kami ‘alergi’ makanan kekinian. Yang kami lakukan ini justru menjadikan menu tambahan di kedai ini, agar banyak orang yang lebih suka makan di sini. Apakah itu orang tua atau anak muda sekali pun,” katanya

Soal harga makanan di sini dimulai dari Rp5.000 untuk mendoan atau bakwan, sementara untuk sate Kedai membandrol harga Rp40.000,-, sudah termasuk nasi, kerupuk dan teh untuk minum.

Bila Anda tertarik mencicipi makanan disini, Anda bisa mendatangi kedainya yang berada di Jakarta Utara. Tepatnya di jalan Boulevard Raya blok QJ 3/24, Kelapa Gading. 

Sumber: herworld.co.id

(Foto: pribadi)