Kak Seto: Bangsa yang besar adalah bangsa yang mencintai anak-anak

98

Dalam IRadio Namu kali ini, Ian Saybani bebincang-bincang dengan Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, siapa lagi kalau bukan Seto Mulyadi, atau yang akrab disapa Kak Seto!

Dalam rangka Hari Anak Nasional pada 23 Juli mendatang, Kak Seto yang merupakan seorang tokoh yang mengabdi untuk anak-anak Indonesia, bercerita tentang masa kecilnya.

Kak Seto yang memiliki nama lengkap Seto Mulyadi ini, terlahir sebagai anak kembar. Sering menjadi perhatian di lingkungan sekitar karena di kota kelahirannya, Klaten, jarang sekali ada anak kembar. Pengalaman indahnya ketika masih kecil, dimana Kak Seto merasa sangat dihargai dan dihormati sebagai anak, sehingga membekas dalam benaknya.

“Zaman dulu itu kan di sekolahan masih ada kekerasan ya. Seperti dijewer, ditampar, tetapi saya dan kembaran saya tuh malah dibelai saja.. Indah sekali pengalaman itu. Untuk itu saya ingin membalas budi kepada anak-anak Indonesia. Itulah salah satu alasan saya mengapa terjun dalam dunia anak-anak sampai kapanpun.

Kak Seto sempat mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya setelah ayahnya meninggal selepas lulus dari SMP, namun ia tetap optimis untuk menjalani kesehariannya, meskipun harus jadi pengasong maupun pengamen. Meskipun penuh dengan tantangan, namun karena sudah memasuki masa remaja, hal itu malah membuat pribadinya semakin kuat. Maka dari itu Kak Seto juga ingin untuk memperkuat kepribadian anak-anak Indonesia dengan kekuatan cinta dan kasih sayang.

Bagi Kak Seto, tanggal 4 – 4 – 1970 adalah tanggal yang keramat. Hal tersebut dikarenakan pada tanggal tersebut, Kak Seto yang sedang bekerja menjadi asisten rumah tangga di sebuah rumah, mengetahui ada program televisi Taman Impian yang dipandu oleh Bu Kasur.

Sontak Kak Seto langsung datang ke gedung TVRI untuk bertemu dengan Bu Kasur. Namun, Kak Seto diarahkan untuk langsung menuju ke rumahnya yang berada di bilangan Cikini.

Jadi hari itu juga saya datang ke rumah Bu Kasur. Kebetulan yang membukakan pintu Pak Kasur-nya ya. Setelah berbincang-bincang, akhirnya diterima untuk bekerja di playgroup yang ada di depan rumah itu. Sore itu juga, saya langsung diperkenalkan oleh Pak Kasur sebagai Kak Seto. Dari situ pula akhirnya lahir panggilan Kak Seto untuk diri saya.

Kak Seto sangat sedih melihat fenomena anak di zaman sekarang. Menurutnya, banyak anak kecil yang berperilaku tidak sesuai dengan usianya. Namun di balik semua itu, semangat Kak Seto semakin berkobar dengan adanya fenomena seperti ini.

Saya menggerakkan sebanyak mungkin elemen masyarakat untuk gerakan perlindungan anak. Kira-kira semenjak 4 tahun lalu, kami menggerakan keterlibatan warga dalam tingkatan RT dan RT untuk menjaga anak. Sampai akhirnya dibuatlah Satgas Sahabat Anak. Daerah Tangerang Selatan telah mendapatkan rekor muri karena sudah ada Satgas Sahabat Anak diseluruh RT dan RW. Kemudian disusul dengan Kabupaten Banyuwangi dan Bengkulu Utara.

Jangan salah lho, I-Listeners! Bagi kita yang mengetahui tindak kekerasan terhadap anak dan hanya diam saja, tanpa berusaha untuk menolong, mencegah ataupun melapor, bisa dikenakan sanksi penjara selama 5 tahun. Waduuh, harus semakin membantu lingkungan sekitar untuk menjaga anak-anak dong ya!

Kak Seto yang juga bergerak di bidang pendidikan untuk Anak Indonesia ini, memiliki homeschooling lho. Seperti apa ya metode belajarnya?

Intinya bahwa belajar itu menyenangkan. Bagaimana caranya untuk menumbuhkan motivasi internal anak untuk mau belajar. Bukan karena diiming-imingi hadiah, ataupun karena dipaksa. Sehingga suasa belajar dibuat sedemikian ramah anak. Bahkan beberapa lulusan SMA dari homeschooling kami, ada yang diterima di Fakultas Kedokteran di 4 perguruan tinggi. Ada di UI, UGM, USU dan Unhas. Ada juga satu anak yang diterima di Harvard.

Tapi, ada juga yang berpendapat bahwa dengan anak homeschooling, jadi kurang bermain dengan temannya, ataupun kurang sosialisasi. Menurut Kak Seto, baik anak yang belajar di sekolah formal maupun homeschooling sama baiknya. Semua tergantung kepribadian dan gaya belajar dari masing-masing anak.

Banyak yang mengatakan bahwa homeschooling itu just school at home. Tidak, malah sebenarnya lebih ke schooling yang sangat homey.”

Buat I-Listeners generasi 80-90an, pasti kenal dong dengan Si Komo yang sering menemani kalian dimasa-masa kecil. Si Komo itu lahir pada tanggal 1 Agustus 1975. Hal tersebut tercetus dari gagasan Kak Seto yang kurang sreg dengan lagu Si Kancil. Kak Seto mengatakan bahwa dalam lagu itu seperti memberikan predikat buruk kepada seekor hewan. Akhirnya, Kak Seto memutuskan untuk menggunakan Komodo, hewan khas dari Indonesia.

Setelah konsultasi dengan Pak Kasur, lahirlah si “weleh..weleh..weleh..” ini. Hahaha.

 

Sebelum berpisah dengan kita semua, Kak Seto punya pesan-pesan nih untuk para orang tua dan anak-anak Indonesia!

Kalau bung Karno dulu mengatakan Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawan-pahlawannya. Pahlawanlah yang membuat kita merdeka. Namun jangan lupakan masa depan. Siapa lagi pemimpin-pemimpin masa depan kalau bukan anak-anak Indonesia di masa sekarang ini. Yang terpenting, jadi bangsa yang besar adalah bangsa yang mencintai dan menghargai anak-anak.

I-Listeners jangan sampai ketinggalan berita-berita menarik! Terus dengerin 89.6 FM atau bisa streaming di sini.

[teks Adhi Satria | foto dok. IRadio FM]

Baca juga:
Berlibur di Nihi Sumba Island ala Nicholas Saputra
Sulit bangun pagi? Atasi dengan 5 cara ini
7 Sajian Salted Egg Yolk paling lezat di Jakarta