IrFM-Poster film-beta-maluku

 

Tanah Maluku sejak dulu dikenal sebagai penghasil talenta pesepakbola berbakat. Yang terakhir, ada generasi skuat timnas U23 seperti Reski Pellu, Alfin Tuasalamony, dan Hendra Adhi Bayau.

Terinspirasi dari bakat-bakat alami tanah Maluku, film Cahaya dari Timur Beta Maluku pun akhirnya dirilis. Mengambil latar belakang konflik Maluku dan sepakbola di Desa Tulehu, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, membuat film ini memberikan kesan mendalam bagi rakyat Maluku dan Indonesia.

Dikisahkan, Sani Tawainela, sosok tukang ojek di Negeri Tulehu, sebelumnya adalah mantan pemain sepakbola yang sempat mewakili Indonesia pada Piala Pelajar Asia pada 1996. Tapi, kegagalannya dalam proses seleksi PSSI, membuat ia harus kembali ke tanah kelahirannya dan berpindah profesi menjadi tukang ojek pada tahun 1999.

Saat terjadi konflik Maluku di tahun 2000, Sani memutuskan untuk mengajak anak-anak Negeri Tulehu bermain sepakbola agar mereka tak larut dalam konflik yang terjadi saat itu.

Sekolah sepakbola yang dirintis Sani dan sahabatnya, Hari, terus berkembang dan anak-anak yang mereka latih tumbuh menjadi pemain-pemain sepakbola muda berbakat dan berkesempatan ikut kompetisi tingkat nasional di Jakarta. Namun, keputusan Sani membaurkan anak-anak yang berbeda agama dalam satu tim justru menyebabkan perpecahan.

Film Cahaya dari Timur Beta Maluku disutradarai Angga Sasongko dengan penyanyi Glenn Fredly yang bertindak sebagai produser. Sekitar 90 persen film ini menggunakan bahasa Melayu Ambon.

Film ini dibintangi Chico Jerrico, Safira Umm, Jajang C Noer, Aufa Assegaf, dan JFlow. Keseluruhan karakter anak-anaknya diperankan oleh anak-anak asli Maluku dengan mengambil lokasi syuting di Tulehu, Ambon, dan Jakarta. ¬´ [foto Antara]

SHARE