Anne Avantie: Kita cukup punya satu peperangan dengan diri kita sendiri

19

IRadio Namu kali ini, Ian Saybani berbincang-bincang dengan seorang wanita hebat, yang selalu berkarya untuk Indonesia, Anna Avantie, atau yang akrab disapa Bunda Anna.

Meskipun sudah berusia kepala lima, tetapi bunda Anna tetap terlihat awet muda. Hal itu disebabkan karena, setiap saat ia selalu melalui perjalanan hidupnya dengan banyak syukur. Dan lebih memilih untuk memikirkan hal-hal positif dan juga jernih.

Ia merasa mendapatkan DNA kreatif dari ibunya, yang kemudian turun ke anaknya.

“Sampai sekarang, secara darah keturunan sudah sampai empat generasi. Saya harap DNA ini bisa sampai ke cucu saya.”

Meskipun bunda Anna sudah sangat dikenal dalam dunia fashion Indonesia, tetapi ia lebih memilih untuk menetap di Semarang, Jawa Tengah.

“Saya memulai karier ini di Jakarta 17 tahun lalu. Sampai hari ini, saya tidak punya rumah di Jakarta. Saya merasa mendapatkan banyak berkat, juga banyak yang mencintai saya di daerah. Maka dari itu saya juga ingin untuk memutarkan ‘roda’ di daerah pula.”

Dibenci, dipojokkan, sudah menjadi hal yang lumrah ketika kita ingin merintis. Tetapi, bunda Anna memiliki cara sendiri untuk melihat orang-orang yang kurang suka dengannya. Ia menganggap mereka sebagai pahlawan yang menghantarkannya untuk terus berjalan menyusuri rentang dan waktu.

Bunda Anna yang terhenti pendidikannya di SMP, tidak merasa minder. Ia tetap semangat untuk berkarya.

“Sekolah saya hanya sampai SMP. Tetapi keterbatasan itu tidak selalu membuat seseorang terpuruk. Keterbatasan itu membuat samudera luas yang selalu mengalir kemanapun.”

Kostum panggung, baju tari, hingga gaun malam semua sudah ‘dilahap’ oleh bunda Anna. Tetapi, ia lebih jatuh cinta kepada kebaya. Menurutnya, kebaya bukan hanya sekedar baju, melainkan sebuah pembaharuan hidup baginya, dan juga orang di sekitarnya.

Kebayanya yang terkenal di luar pakem ini, memang merupakan salah satu cirri khas dari bunda Anna sendiri.

“Untuk berkarya itu ada kebebasan dan juga kemerdekaan di dalamnya. Tidak ada seorang pun yang berhak membatasi karya seseorang. Karena kita cukup punya satu peperangan dengan diri kita sendiri.

Saat kita mengambil keputusan yang baik, tentunya akan membawa kebaikan itu menjadi senjata kita untuk tetap membawa kedamaian dalam kehidupan di dunia.”

Bunda Anna yang juga mendirikan rumah singga Wisma Kasih Bunda, Semarang, tidak punya alasan untuk tidak melayani mereka yang miskin, menderita, difabel maupun lintas agama. Baginya, semua adalah panggilan dari Tuhan, dan tugasnya adalah untuk menjalankan.

“Tuhan tunjuk saya lewat titipannya. Jadi apa yang sudah kami lakukan itu bermanfaat bagi orang. Membawa kebaikan serta suka cita. Sehingga cinta kami bisa diterima.”

I-Listeners, terus dengarkan IRadio FM melalui streaming di sini atau download di iOS dan Google Play Store!

[teks Adhi Satria | foto dok. IRadio FM]

Baca juga:
Album terbaru Fourtwnty akan rilis dalam waktu dekat
Perjuangan menjadi Youtubers di The Underdogs!
Aksi sang pengawal dan pembunuh bayaran dalam “The Hitman’s Bodyguard”