Bagi Anda para pekerja, dunia kerja adalah fenomena yang menyita sebagian besar hidup Anda. Setidaknya, 8 jam waktu Anda sehari habis di kantor – belum ditambah dengan jam lembur Anda.

Risikonya, segala yang terjadi di kantor akan mempengaruhi kondisi kejiwaan Anda, salah satunya adalah sikap bos Anda yang tak sesuai harapan Anda.

Punya bos yang suka bikin stres memang menyebalkan. Apalagi bos Anda senang melontarkan kata-kata kasar yang mengintimidasi dan merendahkan Anda saat perkerjaan Anda tidak sesuai ekspektasinya.

Alih-alih kita termotivasi, kita justru menjadi drop, pikiran pun jadi tak bisa berkonsentrasi, dan akhirnya produktivitas menurun.

Berani Kerja, Berani Tempur

Kita analogikan berkerja layakya bertempur. ‘Pertempuran’Anda harus makin seru saat menjumpai bos galak yang tidak mendukung pengembangan diri Anda secara profesional. Dalam kondisi seperti itu, sebagai pria modern dan berpendidikan, Anda tak boleh mengendurkan semangat Anda.

Langkah pertama yang terpenting adalah mencoba mengevaluasi akar permasalahannya,” ucap Anindita Citra, M.Psi, psikolog dari klinik Light House – Kebayoran, Jakarta.

Menurut Citra, ada dua faktor yang menyebabkan stres akibat atasan yang tidak kondusif, yaitu faktor bos dan faktor diri sendiri.

Jika kita tidak disukai atasan kita, kita evaluasi dulu performa diri dan interaksi kita dengan atasan. Kalau kinerja Anda sudah sesuai dengan prosedur dan instruksi, namun bos tetap tidak suka, berarti masalahnya ada di luar diri Anda. Bisa jadi ada di dalam diri atasan Anda. Tinggal bagaimana cara kita memahaminya,” jelas Citra.

Kunci penting: Adaptasi

Salah satu strategi untuk memahami si bos galak adalah dengan dengan mengobservasi karakter, prioritas kerja, serta target-target yang diinginkannya. Kemudian, jadikan pemahaman itu sebagai pedoman untuk bekerja dengannya.

Ada tipe bos yang ingin cara yang dilakukan anak buahnya sama dengan dia lakukan, padahal hasil suatu pekerjaan bisa diperoleh dari bermacam cara. Jika dia tetap memaksakan metode yang dia pakai, Anda perlu kerendahan hati untuk bertanya padanya,” ucap Citra.

Cara ini merupakan salah satu bentuk dari adaptasi Anda terhadap lingkungan kerja. Survival of the fittest. Ungkapan itulah yang patut untuk jadi pegangan. Ya, siapa yang paling bisa beradaptasi, dialah yang bisa bertahan dan sukses.

Anda mungkin bukan yang paling pintar atau berprestasi, tetapi jika Anda bisa beradaptasi, maka Anda sukses di tempat kerja. “Kita tidak tahu apakah kita the right man on the right place. Karenanya, evaluasi diri sendiri dulu dan mencoba berdaptasi dengan gaya kepemimpinan atasan Anda,” terang Citra.

Jika Anda sudah melakuakan evaluasi dan adaptasi, lakukan 10 hal praktis di bawah ini dalam menghadapi atasan Anda.

1. Tebalkan muka Anda

Anda berhak merasa terintimidasi oleh omelan kasar bos Anda, contohnya dia menyebut Anda ‘manusia kardus yang tak becus’. Dalam kondisi ini, jangan terlalu memasukan kata-kata itu dalam hati.

Anda boleh saja sakit hati, tapi jangan terlalu terlarut dalam perasaan sakit hati itu karena bakal melukai harga diri Anda yang mengakibatkan produktivitas menurun. “Jangan pada kata-kata kejamnya, tapi fokuslah pada inti dari dari maksud dari cacian yang dilontarkan si bos,” terang Citra.

2. Identifikasi pemicu

Karakter bos beragam, seperti perfectionist, project oriented, detail oriented dan sebagainya. Karenanya, kenali karakter bos Anda. Ambil contoh, Anda terkena marah bos lantaran jam makan siang Anda pakai melebihi ketentuan. Itu tandanya bos Anda pecinta detail oriented.

Tapi, akan berbeda jika bos Anda project oriented yang lebih menekankan aspek hasil pekerjaan Anda, bukan masalah penggunaan waktu Anda. Intinya, kenali pemicu konflik Anda dengan bos, yang kerap menyebabkan stres. Jika Anda tahu akarnya, tentu Anda bakal tahu sendiri jalan keluarnya,” ucap Citra.

3. Menyimpan bukti

Tak hanya prestasi kerja yang kita simpan sebagai portofolio, kita juga perlu menyimpan bukti-bukti kekerasan verbal dari bos, terutama yang sudah di luar batas. Bukti tersebut dapat menjadi “amunisi” yang bisa Anda gunakan untuk membela diri.

Untuk berjaga-jaga terhadap suatu hal, tidak ada salahnya merekam kata-kata, email, atau SMS bos Anda yang kasar,” kata Citra.

4. Cari pelampiasan stres

Saat Anda tak bisa menghidar dari situasi stres akibat kata-kata kasar bos, lakukan hal-hal yang bisa membuat mood jadi lebih baik, misalnya dengan menuliskan kekesalan Anda ke dalam satu kertas, lalu meremas dan membuang kertas itu sambil menganggap itu adalah masalah Anda. Anda juga juga bisa mencari ruang yang tenang untuk menenangkan diri.

Bayangkan safe place – situasi nyaman – yang membuat Anda tenang. Semakin Anda larut dalam imajinasi situasi nyaman itu, semakin bagus. Anda akan kian rileks,” jelas Citra.

5. Lakukanlah hobi atau aktivitas yang bikin stres berkurang

Carilah aktivitas yang mengurangi stres dengan menekuni hobi Anda, seperti bermain futsal, nge-gym, yoga, atau olahraga body combat.

Jangan meletakan kebahagiaan Anda hanya dalam satu tempat, termasuk di kerjaan Anda, namun bagilah dalam beberapa tempat. Jadi, saat tempat itu tidak kondusif, masih ada tempat lain yang membuat Anda bahagia,” kata Citra.

6. Mencari bantuan

Saat atasan Anda sudah keterlaluan membuat Anda stres, Anda bisa mendatangi atau meng-email atasan bos Anda mengenai perilakunya. Anda pun bisa meminta bantuan HRD untuk menjadi mediator dengan bos Anda.

Tapi, berhati-hatilah saat menyampaikan hal itu. Gunakan bahasa yang terolah dan tidak offensive.Dalam setiap penjelasan, hubungkan dengan produktivitas kerja Anda agar pengaduan Anda logis dan bisa diterima, bukan justru menunjukkan ketidakbecusan Anda dalam bekerja,” terang Citra.

7. Ubah cara berpikir

Ketika Anda melihat bos Anda marah dan membuat Anda stres, tak ada salahnya mencari penyebabnya. Bisa jadi karena dia letih, lapar, atau ada masalah pada keluarga. Dengan mengetahui penyebabnya, akan memudahkan menyikapi kondisi.

Ini mungkin seperti Anda mentoleransi keadaan bos Anda, tapi cara ini bagus juga buat kita. Biasanya, setiap karyawan tahu wajah bosnya yang sedang bad moodatau tidak. Jika sudah menemukan sinyal bad mood, sebaiknya jangan memicu hal yang membuatnya marah,” kata Citra.

8. Tetaplah tulus bekerja

Mengeluh hanya membuat stres makin menjadi-jadi. Jika Anda merasa bisa bertahan karena passionAnda melebihi dari tantangan kerja, maka cobalah untuk tulus bekerja – positive thinking— demi kebaikan jiwa Anda. Namun, Anda tetap harus memiliki batasan.

Jika bos Anda sudah bermain fisik, maka tidak ada alasan lagi untuk bertahan,” ungkap Citra.

9. Pindah tim atau divisi kerja yang berbeda

Sudah tidak kuat dengar makian bos Anda tapi belum menemukan pekerjaan baru? Cobalah untuk pindah tim kerja atau divisi dahulu. Jika memang akar masalah stres yang Anda rasa adalah karakter dari atasan Anda, mungkin cara itu sangat tepat.

Bicaralah kepada staf Human Resources Department dan supervisordengan mempertimbangkan produktivitas sebagai acuan. Meski begitu, tak semua bos mau “melepaskan” Anda dengan senang hati. Oleh karenanya, usahakan menyiapkan alasan yang logis untuk bos Anda dan staf HR.

Selain itu, pastikan kompetensi yang Anda punya masuk kualifikasi divisi atau tim tujuan Anda,” saran Citra.

10. Jejalahi peluang kerja baru

Jika semua hal sudah Anda usahakan dan kondisi tetap tak berubah, tak ada salahnya mencari peluang kerja baru yang sesuai kompetensi Anda. “Anda bisa mulai bertanya-tanya dengan teman Anda, ataupun membuka laman lowongan kerjaan. Kita bertanggung jawab atas karir kita sendiri,” ungkap Citra.

[sumber Fitness For Men Indonesia | foto tempo.co]

Baca juga:
Cars 3: McQueen tetap berjaya!
10 tahun berkarier, Rinni Wulandari siapkan kejutan!
Kesha mengenakan gaun Sebastian Gunawan